Langsung ke konten utama

Maraknya Kasus Pelecehan Seksual Pada Anak

 


Hilangnya Moral Kaum Lelaki Indonesia 

Oleh: Dea Amalia Putri

Melalui tulisan ini, saya ingin sedikit mengeluarkan keresahan saya sebagai seorang perempuan mengenai kurangnya moral masyarakat Indonesia tentang kasus yang akhir-akhir ini sedang hangat diperbincangkan dan membuat naik pitam seluruh masyarakat Indonesia utamanya kaum perempuan. Sungguh kaum laki-laki Indonesia krisis moral, meski tidak semua. Bagaimana tidak? Kasus tersebut mengenai kasus pelecahan atau kekerasan seksual pada perempuan. Perempuan sebagai tolak ukur majunya peradaban tidak sepantasnya mendapatkan perlakuan layaknya binatang. Dimana akal seorang lelaki ketika melakukan tindakan tak bermoral itu? Apalagi yang menjadi korban kebanyakan adalah anak-anak dibawah umur. Banyak pula kasus kekerasan seksual yang dilakukan di sekitar lingkungan anak-anak. Banyak berita disurat kabar menceritakan seorang Ayah yang sudah kewajibannya melindungi anak perempuannya malah dengan tega menggauli anak kandungnya sendiri. Kasus yang kedua, seorang guru yang dengan tega mencabuli anak muridnya malah mendapat perlindungan dari pihak sekolah dan kasus yang baru-baru ini terjadi dan menjadi trending topik di media sosial adalah seorang dekan di universitas ternama Indonesia malah melakukan tindakan pelecahan seksual dan yang membuat masyarakat Indonesia marah adalah pihak kampus justru melindungi oknum dekan tersebut. Hari ini, 9 Desember 2021 terdengar lagi kabar kasus pelecehan seksual yang dilakukan oleh oknum ustad  hingga membuat hamil 8 santriwati dan beberapa santri melahirkan bayi. Sungguh memalukan, tempat yang sudah seharusnya aman bagi perempuan justru jadi bumerang bagi dirinya sendiri dan tindakan biadab itu dilakukan oleh orang-orang kepercayaannya. Dimanakah hati nurani mereka ketika melakukan hal yang menjijikan tersebut. Dengan banyaknya kasus pelecahan yang terjadi, sudah seharusnya pemerintah mengambil tindakan tegas untuk menindaklanjuti kasus ini. Sebab kekerasan seksual bukan kasus yang main-main, ini adalah kasus yang serius. Kebanyakan korban dari kekerasan seksual adalah anak-anak yang nanti akan menjadi generasi perubahan untuk bangsa. Untuk itu, harus ada hukum dan undang-undang untuk melindungi perempuan dan anak-anak dari tindakan kekeran seksual. Semoga tulisan ini bisa membuka mata kaum lelaki agar lebih menghargai wanita. Kepada pemerintah pusat, utamanya organisasi perlindungan perempuan dan anak-anak serta menteri pendidikan dan kebudayaan agar segera menindaklanjuti kasus ini.

Komentar

  1. Wahhh betul bangat perempuan itu harusnya di lindungi bukan di sakiti😌

    BalasHapus
  2. Menurut saya meningkatnya kasus pelecehan seksual saat ini, itu mungkin di akibatkan oleh teknologi yang sebagian orang salah gunakan sehingga hanya hal² negatif saja yang ia dapatkan.

    BalasHapus


  3. Betul, harus ada hukum untuk melindungi perempuan & anak anak

    BalasHapus
  4. Pemerintah harus mengambil tindakan tegas untuk kasus ini

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hidup Damai Tanpa Drama, yuk Terapkan Self Boundaries Berikut!

Self boundaries adalah menentukan batasan yang tegas ke orang lain dan lingkungan sekitar saat berinteraksi yang bertujuan menjaga kesehatan mental, menjadi percaya diri, membuat lebih dihargai dan tidak mudah dimanfaatkan oleh orang lain. Batasan yang diberikan bisa secara fisik, seksual, waktu, materi yang berasal dari prinsip, nilai, keyakinan dan pengalaman seseorang. Memiliki self boundaries yang jelas mampu menjaga kita dari pengaruh negatif luar. Selain itu, memudahkan dalam mencapai tujuan yang kita inginkan. Contohnya Saat seseorang tidak memiliki self boundaries yang tegas pada fisiknya, maka orang lain akan dengan mudah menyakiti fisik kita.  Agar mudah diterapkan, berikut jenis-jenis self boundaries yang harus kamu ketahui: 1. Emosi Jangan biarkan orang lain mudah memainkan emosi dan perasaan kita. Beri perlindungan diri pada perasaan yang kamu miliki seperti perlindungan terhadap berbagai hal yang membuat kamu marah ataupun sedih. Penting untuk belajar memahami emosi d...

5 Culture Shock Mahasiswa Rantau di Jogja

Pikirku doi istimewa, setelah berkelana ada yang jauh lebih istimewa darinya, apa itu? Jogja Istimewa.   20 tahun hidup di satu pulau bagian timur Indonesia, tumbuh berkembang di lingkup masyarakat yang cukup individualis dan berwatak keras. Namun, setelah memasuki tahun ke dua menjadi mahasiswa rantau di kota Istimewa mampu mengubah wajah judes dan suara ketus menjadi lebih lembut dan sedikit beradab akhlaknya. Jogja erat akan budaya dan tata krama, pikirku pernyataan tersebut hanya cerita di televisi saja. Faktanya, Jogja adalah kota pusat warisan budaya, khususnya keraton, tamansari, prambanan dan masih banyak lagi warisan budaya lainnya. Warga Jogja sangat menjunjung tinggi adab dan tata krama.  5 Culture Shock Mahasiswa Rantau Indonesia Timur di Jogja 1. Kebiasaan menganggukan kepala Salah satu kebiasaan warga Jogja yang terkesan aneh bagi pendatang adalah kebiasaan menganggukkan kepala sambil tersenyum dan mengucap kata “monggo” saat berpapasan dengan orang lain. Ha...