Langsung ke konten utama

Suka Membandingkan Diri? Berikut 4 Dampak Negatif Sering Membandingkan Diri dengan Orang Lain

 



Apakah kamu salah satu orang yang senang membandingkan? Ada banyak alasan seseorang senang membandingkan dirinya dengan orang lain. Jika membandingkan memberikan dampak yang baik untuk lebih bersemangat meningkatkan kualitas hidup, itu adalah dampak yang baik. Namun, jika membuat diri kita merasa rendah diri, tidak termotivasi dan menimbulkan perasaan iri hati, maka harus segera di waspadai sebab akan memberikan dampak negatif ke diri kita ke depannya. Berikut kami rangkum 4 dampak negatif sering membandingkan diri.


  1. Tidak menjadi diri sendiri

Saat membandingkan dirimu dengan yang lain, sebenarnya kamu sedang menghilangkan jati dirimu sendiri. Seringkali kamu tidak mengenal dirimu karena sibuk melihat perkembangan orang lain yang seharusnya pekembangan orang lain dapat dijadikan motivasi dan inspirasi dalam berkarya.

  1. Merasa rendah diri

Kamu akan kesulitan melangkah atau memulai hal-hal baru, karena terjebak di perasaan merasa rendah diri, tidak mampu, tidak berguna, atau merasa tidak pantas. Sebaiknya, buang perasaan itu, sebab hanya akan menghambat kemajuanmu.

  1. Waktu terbuang sia-sia

Waktu yang seharusnya bisa digunakan untuk belajar hal-hal baru, bertemu dengan lingkungan yang positif, namun harus terbuang sia-sia

  1. Depresi

Dampak yang paling parah adalah secara tidak langsung membuat batin kita bermasalah hingga depresi yang berkepanjangan. Hal tersebut semakin menyiksa diri dan memperburuk keadaan.


Jika membandingkan dijadikan acuan dalam meraih tujuan yang positif, hal tersebut bisa saja dilakukan. Tapi, jika tujuannya adalah kompetisi malah bisa berbahaya nantinya.Jadi, jangan buat perbandingan. Sekarang, mulai benahi diri sendiri agar lebih baik ya.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hidup Damai Tanpa Drama, yuk Terapkan Self Boundaries Berikut!

Self boundaries adalah menentukan batasan yang tegas ke orang lain dan lingkungan sekitar saat berinteraksi yang bertujuan menjaga kesehatan mental, menjadi percaya diri, membuat lebih dihargai dan tidak mudah dimanfaatkan oleh orang lain. Batasan yang diberikan bisa secara fisik, seksual, waktu, materi yang berasal dari prinsip, nilai, keyakinan dan pengalaman seseorang. Memiliki self boundaries yang jelas mampu menjaga kita dari pengaruh negatif luar. Selain itu, memudahkan dalam mencapai tujuan yang kita inginkan. Contohnya Saat seseorang tidak memiliki self boundaries yang tegas pada fisiknya, maka orang lain akan dengan mudah menyakiti fisik kita.  Agar mudah diterapkan, berikut jenis-jenis self boundaries yang harus kamu ketahui: 1. Emosi Jangan biarkan orang lain mudah memainkan emosi dan perasaan kita. Beri perlindungan diri pada perasaan yang kamu miliki seperti perlindungan terhadap berbagai hal yang membuat kamu marah ataupun sedih. Penting untuk belajar memahami emosi d...

5 Culture Shock Mahasiswa Rantau di Jogja

Pikirku doi istimewa, setelah berkelana ada yang jauh lebih istimewa darinya, apa itu? Jogja Istimewa.   20 tahun hidup di satu pulau bagian timur Indonesia, tumbuh berkembang di lingkup masyarakat yang cukup individualis dan berwatak keras. Namun, setelah memasuki tahun ke dua menjadi mahasiswa rantau di kota Istimewa mampu mengubah wajah judes dan suara ketus menjadi lebih lembut dan sedikit beradab akhlaknya. Jogja erat akan budaya dan tata krama, pikirku pernyataan tersebut hanya cerita di televisi saja. Faktanya, Jogja adalah kota pusat warisan budaya, khususnya keraton, tamansari, prambanan dan masih banyak lagi warisan budaya lainnya. Warga Jogja sangat menjunjung tinggi adab dan tata krama.  5 Culture Shock Mahasiswa Rantau Indonesia Timur di Jogja 1. Kebiasaan menganggukan kepala Salah satu kebiasaan warga Jogja yang terkesan aneh bagi pendatang adalah kebiasaan menganggukkan kepala sambil tersenyum dan mengucap kata “monggo” saat berpapasan dengan orang lain. Ha...

Maraknya Kasus Pelecehan Seksual Pada Anak

  Hilangnya Moral Kaum Lelaki Indonesia   Oleh: Dea Amalia Putri Melalui tulisan ini, saya ingin sedikit mengeluarkan keresahan saya sebagai seorang perempuan mengenai kurangnya moral masyarakat Indonesia tentang kasus yang akhir-akhir ini sedang hangat diperbincangkan dan membuat naik pitam seluruh masyarakat Indonesia utamanya kaum perempuan. Sungguh kaum laki-laki Indonesia krisis moral, meski tidak semua. Bagaimana tidak? Kasus tersebut mengenai kasus pelecahan atau kekerasan seksual pada perempuan. Perempuan sebagai tolak ukur majunya peradaban tidak sepantasnya mendapatkan perlakuan layaknya binatang. Dimana akal seorang lelaki ketika melakukan tindakan tak bermoral itu? Apalagi yang menjadi korban kebanyakan adalah anak-anak dibawah umur. Banyak pula kasus kekerasan seksual yang dilakukan di sekitar lingkungan anak-anak. Banyak berita disurat kabar menceritakan seorang Ayah yang sudah kewajibannya melindungi anak perempuannya malah dengan tega menggauli anak kandungny...